Kamis, 15 Juni 2017

Georgy Konstantinovich Zhukov (ID/EN) Language

Request by: anonymous

INDONESIA LANGUAGE
-------------------------------------
Georgy Konstantinovich Zhukov (Sirilik: Гео́ргий Константи́нович Жу́ков) (lahir di StrelkovkaMaloyaroslavets RaionKaluga Guberniya (sekarang Zhukovo Raion Kaluga Oblast), 1 Desember 1896 – meninggal di MoskwaUni Soviet18 Juni 1974 pada umur 77 tahun), adalah komandan militer Uni Soviet dan juga seorang politikus, dan merupakan salah seorang jenderal yang terkenal lewat jasanya yang besar di Perang Dunia II.


Terlahir dari keluarga petani di Strelkovka, Maloyaroslavets Raion, Kaluga Guberniya (sekarang Zhukovo Raion Kaluga Oblast), Zhukov kemudian hijrah ke Moskow, dan pada tahun 1915, Zhukov menjalani wajib militer di Tentara Kekaisaran Rusia. Semasa Perang Dunia I, Zhukov mendapat anugerah berupa medali penghargaan Salib Santo Georgius sebanyak dua kali dan dipromosikan pada jabatan opsir non-komisioner atas keberaniannya di medan perang. Dia kemudian bergabung dengan Partai Bolshevik tidak lama setelah terjadinya Revolusi Oktober, dan latar belakang kehidupannya yang miskin menjadi semacam aset baginya di dalam badan partai. Setelah sembuh dari tifus, dia bertempur dalam Perang Saudara Rusia dari 1918 sampai 1920, dan mendapatkan penghargaan Order of the Battle Red Banner karena berhasil membungkam pemberontakan rakyat yang dipicu oleh orang-orang non-komunis (Rusia Putih).
Pada 1923 Zhukov menjadi komandan yang mengepalai sebuah resimen, dan pada 1930, memimpin sebuah brigade. Dia sangat berhasrat dan tertarik dengan teori baru dalam pertempuran, yakni pertempuran tank (armoured warfare) dan juga terkenal karena perencanaannya yang matang, dan disiplin yang tinggi. Dia selamat dari pembunuhan besar-besaran pada masa Stalin (dalam bahasa Inggris Great Purge) yang terjadi di kalangan Tentara Merah pada 1937-1938.
Pada 1938 Zhukov ditunjuk untuk memimpin Pasukan Soviet-Mongolia Pertama, dan terlibat dalam pertempuran melawan Tentara Kwantung milik Jepang di perbatasan antara Mongolia dengan Manchukuo yang dikuasai Jepang yang berlangsung dari 1938 sampai 1939 yang dimulai dengan patroli perbatasan rutin yang dilakukan pihak Jepang, tetapi melewati perbatasan Uni Soviet, dan makin memuncak hingga terjadi perang secara besar-besaran dimana pihak Jepang mengerahkan 80.000 tentara, 180 kendaraan lapis baja dan 450 pesawat tempur.
Konflik itu mencapai puncaknya pada Pertempuran Khalkhin Gol. Zhukov meminta bala bantuan dalam skala besar, dan pada 15 Agustus 1939, dia memerintahkan serangan secara frontal pada pihak Jepang. Namun Zhukov berhasil memukul mundur dua brigade tank Jepang lewat manuver yang dinilai berani dan membuahkan hasil, lalu memerintahkan pasukannya agar maju dan mengapit musuh dari dua sisi medan pertempuran. Didukung infantri dan artileri, dua grup tempur mobil berhasil mengepung Pasukan Jepang Keenam dan berhasil merebut tempat logistik dan suplai pasukan Jepang. Alhasil, kurang dari seminggu, moral pasukan Jepang rontok dan dikalahkan dengan mudah oleh Tentara Merah.
Atas kemenangan melawan Jepang ini, Zhukov dianugerahi medali penghargaan Pahlawan Uni Soviet. Di luar Uni Soviet, pertempuran ini kurang begitu terdengar gaungnya, karena pada saat bersamaan, Perang Dunia II baru saja dimulai. Zhukov memperkenalkan metode pertempuran yang mengandalkan pasukan lapis baja gerak cepat (mobile armored troops) pada Uni Soviet maupun Sekutu Barat, tetapi tidak begitu diterima, dan sebagai konsekuensinya, Blitzkrieg yang dilancarkan oleh Jerman Nazi kepada Perancis pada 1940 tidak terelakkan dan Perancis kalah telak dalam hitungan hari.
Zhukov kemudian dipromosikan pada jabatan marsekal. Pada tahun 1940, Zhukov langsung menjadi Kepala Staf Tentara Merah pada Januari - Juli 1941 sebelum akhirnya digantikan oleh Marsekal Boris Shaposhnikov karena bertentangan dengan Stalin dalam beberapa hal.

Setelah invasi Jerman ke Uni Soviet pada Juni 1941, Zhukov tidak takut mengemukakan ketidaksetujuan maupun kritik kepada Stalin dan para petinggi militer Soviet lainnya. Alhasil, dia dilepas dari jabatannya semula dan dikirim ke Distrik Militer Leningrad untuk menyusun pertahanan kota tersebut. Dia berhasil memukul mundur laju gerakan pasukan Jerman di selatan Leningrad pada musim gugur 1941.
Pada Oktober 1941, ketika pasukan Nazi makin mendekati Moskwa, Zhukov menggantikan posisi Marsekal Semyon Timoshenko untuk memimpin pasukan di front pusat dan ditunjuk untuk mengatur pertahanan kota Moskwa. Dia jugalah yang mengatur pengiriman pasukan dari Siberia, dimana terdapat pasukan AD Soviet dalam jumlah masif. Serangan balasan Soviet yang sukses pada Desember 1941 berhasil meluluhlantakkan pasukan Jerman dan menjauhkan mereka dari ibukota Soviet.
Pada saat itu, Zhukov sangat dihargai oleh Stalin atas segala kesuksesannya di medan perang, juga atas kejujuran dan keterbukaan dalam berpendapatnya. Kesediaan Stalin untuk menerima kritik dan pendapat dari para jenderal Tentara Merah tentunya juga merupakan kontribusi yang tidak kecil sehingga dirinya, dan Uni Soviet, bisa memenangkan Perang Dunia II - bertolak belakang dengan Hitler yang kerap membungkam dan memecat jenderal yang berani memprotes rencananya, dimana hal itu juga menjadi kelemahan Hitler.
Pada 1942, Zhukov menjadi Wakil Kepala Komandan Lapangan dan dikirim ke front barat daya untuk memegang kendali atas pertahanan kota Stalingrad. Dibawah kepemimpinan Vasilievsky disana, dia memperkirakan pengepungan dan penangkapan Pasukan Jerman Keenam pada 1943 akan mengorbankan banyak jiwa manusia, mungkin mencapai 1 juta. Selama bertugas di Stalingrad, Zhukov menghabiskan banyak waktu untuk serangan-serangan yang konon tidak berhasil di Rzhev, Sychevka dan Vyazma, disebut Pelumat Daging Rzhev ("Ржевская мясорубка"). Bagaimanapun, Zhukov mengklaim bahwa segala usahanya selama di Stalingrad sukses, yang menyebabkan Stalin berpendapat soal tindakan Zhukov:
"Berlawanan dengan klaim Zhukov, dia sama sekali tidak berkaitan dengan rencana penaklukan pasukan Jerman di Stalingrad; karena rencana tersebut dikembangkan dan mulai dijalankan pada musim dingin 1942, dan saat itu Zhukov sedang bertempur di front lain yang jauh dari Stalingrad."
Pada Januari 1943, dialah yang membuat rencana serangan guna menerobos blokade pasukan Jerman pada kota Leningrad. Zhukov juga menjadi koordinator STAVKA pada Pertempuran Kursk, Juli 1943, memainkan peranan penting dalam perencanaan pertempuran defensif Soviet dan operasi-operasi ofensif yang mencapai kesuksesan besar. Pertempuran di Kursk menjadi kekalahan besar pertama Jerman pada musim panas itu dan muncul klaim bahwa pertempuran Kursk sama menentukannya dengan pertempuran di Stalingrad.
Menyusul kegagalan Marsekal Kliment Voroshilov, Zhukov yang menggantikannya sukses mengakhiri kepungan Nazi atas kota Leningrad pada Januari 1944. Zhukov juga memimpin laju pasukan Soviet pada 1944 serta serangan terakhir pada Jerman pada 1945, merebut kota Berlin pada April 1945, dan menjadi petinggi militer Soviet pertama yang memerintah wilayah pendudukan Soviet di Jerman. Sebagai komandan militer Soviet paling berjasa pada perang melawan Nazi, Zhukov ditunjuk menjadi inspektur upacara pada Parade Kemenangan Uni Soviet di Lapangan Merah tahun 1945.
Jenderal Eisenhower, panglima tertinggi pasukan Sekutu di front Eropa Barat, adalah seorang pengagum Zhukov, dan mereka berdua mengunjungi berbagai tempat di penjuru Uni Soviet secara bersama tidak lama setelah kemenangan pihak Sekutu dan Uni Soviet atas Nazi Jerman.

Karier pasca-perang

Sebagai seorang pahlawan perang dan tokoh militer yang sangat populer, Zhukov semakin dianggap berbahaya oleh Stalin. Alhasil, pada 1947, dia dipindahkan untuk bertugas di distrik militer Odessa (yang tentunya jauh dari Moskwa). Setelah Stalin meninggal dunia pada 1953, Zhukov kembali ke Moskwa dan menjadi Wakil Menteri Pertahanan pada 1953, dan kemudian menjadi Menteri Pertahanan pada 1955.
Pada 1953, Zhukov mendukung keputusan Partai Komunis Soviet pasca-Stalin untuk menangkap (dan kemudian mengeksekusi) Lavrenty Beria, kepala kepolisian negara Uni Soviet pada waktu itu. Beberapa rumor menyebutkan bahwa Zhukov sendirilah yang memimpin penangkapan tokoh 'pembelot' itu sementara Politburo sedang mengadakan pertemuan di Kremlin membahas tentang Beria.
Zhukov sebagai Menteri Pertahanan Uni Soviet, bertanggung jawab atas invasi Soviet kepada Hungaria pada Oktober 1956, dan memang benar, dialah yang mengusulkan invasi itu kepada Khruschev.
Pada 1957, Zhukov mendukung pihak Nikita Khrushchev dalam persaingan politis dengan para oposisi yang konservatif, yang dikenal dengan sebutan Grup Anti-Partai yang dipimpin Vyacheslav Molotov. Pidato Zhukov pada rapat pleno Komite Pusat sangatlah berpengaruh - karena secara langsung dia mendukung upaya De-Stalinisasi yang dilakukan Khrushchev dan menentang para Stalinis.
Pada Juni 1957, dia diangkat menjadi anggota Presidium Komite Pusat Partai Komunis Uni Soviet. Bagaimanapun, dia mempunyai beberapa ketidakcocokan yang cukup signifikan berkaitan dengan masalah politik dengan Khrushchev dalam hal kebijakan militer. Karena Khrushchev berniat mengurangi jumlah personel militer AD dan AL Soviet, sementara mematok kekuatan nuklir strategis sebagai fokus utama kemiliteran Uni Soviet. Hal itu agar lebih banyak sumber daya manusia maupun SDA di Soviet dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat Soviet.
Zhukov mendukung pihak militer dan menolak kebijakan Khrushchev tersebut. Khrushchev pun menunjukkan bahwa seharusnya Partai Komunis yang mendominasi atas kemiliteran Tentara Merah, dan bukan sebaliknya, lalu memberhentikan Zhukov dari jabatannya dan mengeluarkannya dari Komite Pusat Partai Komunis Uni Soviet pada Oktober 1957. Dalam memoirnya, Khrushchev mengklaim bahwa dia percaya Zhukov merencanakan suatu kudeta terhadap dirinya.
Setelah Khrushchev lepas dari tampuk kekuasaan pada Oktober 1964, pemimpin baru Uni Soviet yakni Leonid Brezhnev serta Alexei Kosygin mengembalikan Zhukov, walaupun bukan untuk menduduki kembali segala jabatannya terdahulu. Brezhnev juga marah ketika pada perayaan Dua Puluh Tahun Kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman, Zhukov mendapat penghargaan dan penghormatan lebih besar daripada dirinya selaku pemimpin Soviet pada masa itu. Karena sebenarnya pada masa Perang Dunia II, Brezhnev hanya seorang komissar junior.
Zhukov terus menjadi figur yang populer di Uni Soviet sampai ketika dia wafat pada 1974. Ia dimakamkan dengan upacara kemiliteran penuh penghormatan.

sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Georgy_Zhukov

ENGLISH
-------------------------------------------
Georgy Konstantinovich Zhukov (RussianГео́ргий Константи́нович Жу́ковIPA: [ɡʲɪˈorgʲɪj kənstɐnˈtʲinəvʲɪtɕ ˈʐukəf]; 1 December [O.S. 19 November] 1896 – 18 June 1974), was a career Russian officer in the Red Army of the Soviet Union who became Chief of General Staff, Deputy Commander-in-Chief, Minister of Defence and a member of the Politburo. During World War II he participated in multiple battles, ultimately commanding the 1st Belorussian Front in the Battle of Berlin.
In recognition of Zhukov's role in World War II, he was allowed to participate in signing the German Instrument of Surrender and to inspect the Moscow Victory Parade of 1945.

On 22 June 1941, Germany launched Operation Barbarossa, an invasion of the Soviet Union. On the same day, Zhukov responded by signing the "Directive of Peoples' Commissariat of Defence No. 3", which ordered an all-out counteroffensive by Red Army forces: he commanded the troops "to encircle and destroy [the] enemy grouping near Suwałki and to seize the Suwałki region by the evening of 24 June" and "to encircle and destroy the enemy grouping invading in [the] Vladimir-Volynia and Brody direction" and even "to seize the Lublin region by the evening of 24 June".[25] Despite numerical superiority, this manoeuvre failed, disorganized Red Army units were destroyed by the Wehrmacht. Zhukov subsequently claimed that he was forced to sign the document by Joseph Stalin, despite the reservations that he raised.[26] This document was supposedly written by Aleksandr Vasilevsky.[27]
On 29 July 1941 Zhukov was removed from his post of Chief of the General Staff. In his memoirs he gives his suggested abandoning of Kiev to avoid an encirclement as a reason for it.[28] On the next day the decision was made official and he was appointed the commander of the Reserve Front.[28] There he oversaw the Yelnya Offensive.
On 10 September 1941 Zhukov was made the commander of the Leningrad Front.[29]There he oversaw the defence of the city.
On 6 October 1941 Zhukov was appointed the representative of Stavka for the Reserve and Western Fronts.[30] On 10 October 1941 those fronts were merged into the Western Front under Zhukov's command.[31] This front then participated in the Battle of Moscow and several Battles of Rzhev.
Zhukov on the cover of Life magazine (31 January 1944)
The Supreme Commanders in Berlin on 5 June 1945; from left to right: Bernard Montgomery (Great Britain), Dwight D. Eisenhower (US), Zhukov and Jean de Lattre de Tassigny (France)
In late August 1942 Zhukov was made Deputy Commander-in-Chief and sent to the southwestern front to take charge of the defence of Stalingrad.[32] He and Vasilevsky later planned the Stalingrad counteroffensive.[33] In November Zhukov was sent to coordinate the Western Front and the Kalinin Front during Operation Mars.
In January 1943 he (together with Kliment Voroshilov), coordinated the actions of the Leningrad and Volkhov Fronts and the Baltic Fleet in Operation Iskra.[34]
Zhukov was a Stavka coordinator at the Battle of Kursk in July 1943. According to his memoirs, he played a central role in the planning of the battle and the hugely successful offensive that followed. Commander of the Central Front Konstantin Rokossovsky, said, however, that the planning and decisions for the Battle of Kursk were made without Zhukov, that he only arrived just before the battle, made no decisions and left soon afterwards, and that Zhukov exaggerated his role.[35]
From 12 February 1944 Zhukov coordinated the actions of the 1st Ukrainian and 2nd Ukrainian Fronts.[36] On 1 March 1944 Zhukov was appointed the commander of the 1st Ukrainian Front[37] until early May.[38] During the Soviet offensive Operation Bagration, Zhukov coordinated the 1st Belorussian and 2nd Belorussian Fronts, later the 1st Ukrainian Front as well.[39] On 23 August Zhukov was sent to the 3rd Ukrainian Front to prepare for the advance into Bulgaria.[40]
On 16 November he became commander of the 1st Belorussian Front[41] which took part in the Vistula–Oder Offensive and the battle for Berlin. He called on his troops to "remember our brothers and sisters, our mothers and fathers, our wives and children tortured to death by [the] Germans...We shall exact a brutal revenge for everything." In a reprise of similar atrocities committed by German soldiers against Russian civilians in the eastward advance into Soviet territory during Operation Barbarossa, the westward march by Soviet forces was marked by brutality towards German civilians, which included looting, burning and rape.[42]
Zhukov was present when German officials signed the Instrument of Surrender in Berlin.


Rabu, 07 Juni 2017

Yuri Gagarin




Hasil gambar untuk yuri gagarin
Yuri Alekseyevich Gagarin

INDONESIA LANGUAGE
-------------------------------------
Yuri Alekseyevich Gagarin (aksara Sirilik: Юрий Алексеевич Гагарин; Alihaksara ISO: Ûrij Alekseevič Gagarin), lahir di KlushinoRepublik Sosialis Federasi Soviet RusiaUni Soviet9 Maret 1934 – meninggal di NovosyolovoRSFSRUni Soviet27 Maret 1968 pada umur 34 tahun) adalah seorang kosmonot Uni Soviet.
Pada tanggal 12 April 1961, Gagarin merupakan manusia pertama yang terbang selama 108 menit ke luar angkasa dengan pesawat roket Vostok 1. Ia menerima banyak penghargaan dan medali kehormatan, termasuk medali "Hero of the Soviet Union". Yuri Gagarin kemudian menjadi Deputi Direktur Pelatihan di Pusat Pelatihan Kosmonot di luar kota Moskow. Untuk menghormati jasanya, tempat pelatihan ini kemudian dinamakan dengan namanya. Ia meninggal ketika sedang melakukan latihan dengan pesawat MiG-15 dekat Moskwa, pada 27 November 1968. Berdasarkan laporan komisi Rusia yang ditandatangani oleh Presiden Rusia saat itu, Leonid Brezhnev, penyebab kematian Yuri Gagarin karena pesawatnya terlalu tajam saat bermanuver menghindari sebuah balon cuaca.

Yuri Gagarin dilahirkan di sebuah desa bernama Klushino dekat Gzhatsk (sekarang berada di wilayah Smolensk Oblast, Russia), pada tanggal 9 Maret 1934. Yuri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seorang tukang kayu hingga Yuri berumur 7 tahun, kemudian ayahnya bergabung dengan angkatan bersenjata. Pada masa SMA, Yuri memilih untuk belajar sebagai teknisi di sebuah sekolah kejuruan teknik di Saratov. Pada tahun 1955, setelah menyelesaikan sekolah tekniknya, ia terdaftar sebagai murid di sekolah penerbangan Orenburg. Selepas dari sekolah penerbangan, Yuri mendaftar di Akademi Angkatan Udara Soviet. Yuri lulus dari Akademi Angkatan Udara Soviet pada tahun 1957 dan bergabung dengan korps kosmonot pada tahun 1960

Yuri Gagarin juga dianugerahi berbagai penghargaan dan medali dari dunia International selain dari Rusia. Di antaranya, sebagai penghargaan dari rakyat Indonesia, pada tahun 1961, ketika Presiden Soekarno mengunjungi Soviet, ia dianugerahi Medali Mahaputra.

ENGLISH
-------------------------------------------
Yuri Alekseyevich Gagarin (RussianЮ́рий Алексе́евич Гага́рин, March 1934 – 27 March 1968) was a Russian Soviet pilot and cosmonaut. He was the first human to journey into outer space, when his Vostok spacecraft completed an orbit of the Earth on 12 April 1961.
Gagarin became an international celebrity, and was awarded many medals and titles, including Hero of the Soviet Union, the nation's highest honour. Vostok 1 marked his only spaceflight, but he served as backup crew to the Soyuz 1 mission (which ended in a fatal crash). Gagarin later became deputy training director of the Cosmonaut Training Centre outside Moscow, which was later named after him. Gagarin died in 1968 when the MiG-15 training jet he was piloting crashed. The Fédération Aéronautique Internationale awards the Yuri A. Gagarin Gold Medal in his honor.
Like millions of people in the Soviet Union, the Gagarin family suffered during Nazi occupation in World War II. Klushino was occupied in November 1941 during the German advance on Moscow, and an officer took over the Gagarin residence. The family was allowed to build a mud hut, approximately 3 by 3 metres (10 by 10 ft) inside, on the land behind their house, where they spent a year and nine months until the end of the occupation.[5] His two older siblings were deported by the Germans to Poland for slave labour in 1943, and did not return until after the war in 1945. In 1946, the family moved to Gzhatsk, where Gagarin continued his secondary education.
In 1950, Gagarin entered into an apprenticeship at age 16 as a foundryman at the Lyubertsy Steel Plant near Moscow, and also enrolled at a local "young workers" school for seventh grade evening classes. After graduating in 1951 from both the seventh grade and the vocational school (with honours in moldmaking and foundry-work), he was selected for further training at the Saratov Industrial Technical School, where he studied tractors. While in Saratov, Gagarin volunteered for weekend training as a Soviet air cadet at a local flying club, where he learned to fly — at first in a biplane and later in a Yak-18 trainer. He also earned extra money as a part-time dock laborer on the Volga River.


Jumat, 28 April 2017


Sumber: http://alifrafikkhan.blogspot.co.id/search/label/Foto%20Berwarna%20Nazi%20Jerman
Sebuah foto berwarna langka yang memperlihatkan Panzer II dalam invasi Jerman ke Polandia (September 1939)
 Jenderal Erwin Rommel berbicara dengan seorang perwira Italia sekutunya di padang pasir Afrika Utara. Di tengah adalah Sonderführer Dr. Ernst Franz yang merupakan penterjemah Rommel. Franz mengingat bagaimana, setelah posisi pertahanan unit elit Bersaglieri diduduki oleh musuh, komandannya membela diri pada Rommel sambil memohon: "Percayalah padaku, anakbuahku bukanlah orang-orang pengecut." Dan Rommel menjawab: "Siapa yang mengatakan anakbuahmu pengecut? Atasanmu di Roma lah yang harusnya dipersalahkan! Mengirim kalian ke medan pertempuran dengan peralatan perang yang begitu buruk." (beberapa unit Italia dalam perang di Afrika dipersenjatai dengan meriam-meriam artileri hasil rampasan dari pasukan Austria dalam Perang Dunia Pertama, senjata yang bisa dibilang tidak berguna ketika menghadapi tank-tank lapis baja modern!)
 Anggota RAD (Reichsarbeitsdienst) sedang makan siang di sela-sela tugas mereka. Mereka mengenakan armband dengan tulisan "Deutsche Wehrmacht". Armband khusus ini biasanya dikenakan oleh orang-orang sipil yang bekerja untuk kepentingan Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) di masa perang
 Leutnant (pangkat terakhir Oberleutnant) Eugen Kastner dari Grenadier-Regiment 316 / 212. Infanterie-Division di front Volkhov, Uni Soviet. Dia mengenakan jaket kamuflase bolak-balik musim dingin yang biasa disebut sebagai Umkehrbare Winteranzug (Winter Reversible Camo Parka), dengan bagian abu-abunya berada di luar sedangkan bagian putihnya di dalam. Di bagian lengan terjahit insignia pangkat yang biasa dinamakan sebagai tarn-dienstgradabzeichen. Tampaknya foto ini diambil saat Kastner akan melakukan patroli, yang terlihat dari peralatan ski yang dikenakannya serta senapan mesin MP40 (lengkap dengan kantong amunisi) yang tersampir di dadanya. Di latar belakang tampak jalan kereta api dengan bantalan kayu yang melewati belantara Volkhov. Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil. Foto ini sendiri merupakan salah satu dari 500+ foto peninggalan Oberleutnant Kastner, dan sekarang menjadi koleksi pribadi Akira Takiguchi

Rabu, 08 Maret 2017


 Para Regimentskommandeur (Komandan Resimen) dari Infanterie-Regiment 16 berfoto bersama dalam sebuah acara di Oldenburg-Kreyenbrück, hari minggu tanggal 23 Mei 1937. Dari kiri ke kanan: Generalmajor Hartwig von Platen (Komandan periode 1 April 1928 - 30 September 1929), General der Infanterie Hans Freiherr Seutter von Lötzen (Komandan periode 1 April 1925 - 30 September 1926), Oberst Hans Kreysing (Komandan periode 1 Oktober 1936 - 10 September 1940), General der Infanterie Leopold Freiherr von Ledebur (Komandan periode 27 September 1920 - 14 Juni 1921), Generalleutnant Johannes Severin (Komandan periode 15 Juni 1921 - 31 Maret 1925), Generalmajor der Luftwaffe Karl von Roques (Komandan periode 1 Oktober 1929 - 30 September 1931), dan Generalmajor Athos von Schauroth (Komandan periode 1 Oktober 1933 - 30 September 1936). Regimentskommandeur lain yang tidak nongol dalam foto ini adalah Generalmajor Erich Gudowius (Komandan periode 1 Oktober 1926 - 31 Maret 1928) dan Generalleutnant Gerhard Glokke (Komandan periode 1 Oktober 1931 - 30 September 1933)

Selasa, 07 Maret 2017

Operasi Pembunuhan Hitler

Kini Claus von Stauffenberg berusaha untuk melakukan upaya pembunuhannya yang kedua, yang bertempat di markas besar Hitler di Prusia Timur yang lebih dikenal sebagai Wolffschanze (Sarang Serigala). Tanggal 15 Juli 1944 dia menghadiri sebuah konferensi yang dihadiri langsung oleh Sang Führer. Stauffenberg dibuat begitu kecewa ketika mengetahui bahwa Heinrich Himmler absen lagi. Akhirnya usaha percobaan ini pun gagal. 

Bisa dibilang, rasa anti Stauffenberg terhadap Hitler sudah sampai ke ubun-ubun, dan perwira yang berusia 36 tahun ini tidak pernah berhenti mencoba untuk mewujudkan tujuannya : membunuh Hitler. Usaha ketiganya (sekaligus terakhir) dilakukan pada tanggal 20 Juli 1944. keputusan untuk kembali meledakkan Hitler pada tanggal tersebut telah dibuat empat hari sebelumnya dalam sebuah pertemuan yang diadakan di rumah Stauffenberg di Tristanstrasse No.8, Wansee. Ada atau tidak adanya Himmler, kali ini rencana harus tetap jalan terus, apapun hasil yang akan terjadi kemudian. Jam 12.00 Stauffenberg dan Generaloberst Friedrich Fromm melaporkan diri ke kantor Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel untuk mengadakan konferensi kecil sebelum masuk ke ruang pertemuan utama. Jam 12.37, Stauffenberg menempatkan koper yang telah berisi bom waktu di bawah meja penggelar peta, dan kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan berpura-pura seakan-akan hendak melakukan sambungan telepon penting. Seorang Oberst bernama Heinz Brandt yang menggantikan tempatnya kemudian secara tidak sengaja melihat koper yang ditinggalkan oleh Stauffenberg. Dia lalu menggeser koper tersebut lebih jauh dari meja dengan kakinya. Ini adalah saat dimana takdir kembali berbicara. Meja kayu tebal yang terbuat dari pohon ek telah menyelamatkan Hitler dari daya penuh bom yang meledak tepat pada jam 12.42. pada saat ini Stauffenberg telah dalam perjalanan kembali ke Berlin. Jam 18.28 sebuah siaran radio dari Wolffschanze melaporkan bahwa Hitler telah selamat dari ledakan tersebut dan hanya mengalami luka ringan. Malamnya, jam 00.30, Stauffenberg bersama dengan konspirator lainnya yaitu Oberleutnant Werner von Haeften, General der Infanterie Friedrich Olbricht dan Oberst Albrecht Mertz von Quirnheim, ditangkap atas perintah Fromm si oportunis dan langsung dieksekusi oleh regu tembak di halaman dalam markas Bendlerstrasse. Tak lama setelah peristiwa ini, istri Stauffenberg beserta keempat anaknya ditangkap dan ditahan oleh Gestapo. Saat itu Nina von Stauffenberg sedang mengandung anaknya yang kelima, dan kemudian melahirkan dalam penjara. Nina pada akhirnya berhasil dibebaskan oleh Sekutu bersama dengan anak-anaknya, sedangkan salah seorang saudara Stauffenberg yang bernama Berthold, yang ikut dipenjara, tidak mengalami nasib seberuntung itu dan kemudian harus mengalami nasib dieksekusi pula seperti kakaknya. Antara tanggal 8 Agustus 1944 sampai dengan 9 April 1945, 90 orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa 20 Juli telah dieksekusi di penjara Plötzensee. 

Paris 
Upaya lain untuk membunuh Hitler direncanakan akan terjadi tanggal 27 Juli 1940 di Paris, dimana Graf Fritz-Dietlof von der Schulenberg bermaksud untuk menembak Hitler dari podium penonton selama berlangsungnya parade militer untuk menghormati Hitler atas kemenangannya adalam Operasi Fall Gelb. Dahsyatnya, secara diam-diam Hitler mengunjungi Paris pagi-pagi tanggal 23 Juli dan mengunjungi bangunan-bangunan terkenal kota Paris, termasuk di antaranya Menara Eiffel dan kuburan Napoleon Bonaparte. Dia memulai tur wisatanya jam 06.00 dan berakhir tiga jam kemudian, untuk kemudian kembali lagi ke Berlin. Beberapa hari kemudian Schulenberg menerima berita bahwa harapannya membunuh Hitler dalam parade 27 Juli telah dibatalkan. 

Ternyata usaha pembunuhan terhadap Hitler di Paris tidak hanya dilakukan oleh Schulenberg saja. Kali ini otaknya tak lain tak bukan adalah Generalfeldmarschall Erwin von Witzleben. Dalam bulan Mei 1941, dia berusaha untuk mengundang Hitler ke Paris untuk menghadiri parade militer yang sama. Kunjungan tersebut direncanakan tanggal 21 Mei, tapi kemudian dibatalkan pada menit-menit terakhir! 

Garis Siegfried 
Di tahun 1939 tak lama sebelum pecahnya Perang Dunia II, Generaloberst Kurt von Hammerstein-Equord berkali-kali mengajukan undangan kepada Hitler untuk mengadakan kunjungan ke benteng-benteng militer Jerman yang terdapat di Garis Siegfried dekat perbatasan dengan Belanda yang dikomandaninya. Disana rencananya Hitler akan mengalami “kecelakaan fatal” yang berakibat pada kematiannya. Hal ini telah direncanakan jauh-jauh hari oleh Hammerstein-Equord bersama kompatriotnya, Generaloberst Ludwig Beck (yang terlibat pula dalam Peristiwa 20 Juli 1944). Yang ada adalah, Hitler bukannya memenuhi undangan-undangan ini dan malahan mengkick balik Hammerstein-Equord dengan menempatkannya dalam daftar pensiun! 

Poltava 
Usaha pembunuhan lain terhadap Hitler telah direncanakan di Markas Besar Grup Tentara B di Walki dekat Poltava, Ukraina. Kali ini konspiratornya adalah General der Gebirgstruppe Karl Hubert Lanz, kepala staffnya Generalmajor Dr. Hans Speidel, dan Oberst Graf von Strachwitz yang merupakan perwira komandan resimen panzer Großdeutschland. Rencananya sendiri adalah menangkap Hitler dalam kunjungannya ke Grup Tentara B yang rencananya akan digelar di musim panas tahun 1943. Seperti yang telah terjadi dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, Hitler membatalkan rencana kunjungan tersebut di menit-menit terakhir dan memindahkan kunjungannya ke pasukannya yang sedang berjuang di Saporoshe lebih jauh ke Timur Rusia. 

Smolensk 
Tanggal 13 Maret 1943 tidak hanya satu, melainkan tiga, usaha pembunuhan terhadap Hitler telah direncanakan! Generalfeldmarschall Hans-Günther von Kluge, komandan Grup Tentara Tengah di Front Timur, akhirnya berhasil meyakinkan Hitler untuk mengadakan kunjungan ke markas besarnya di Smolensk. Ternyata beberapa staff Von Kluge telah berencana untuk melenyapkan nyawa Hitler dengan memanfaatkan momen kunjungan tersebut. Generalmajor Henning von Tresckow, yang sangat membenci Hitler dan Nazi, telah membuat 3 rencana pembunuhan yang dibuatnya bersama dengan Leutnant Fabian von Schlabrendorff, Oberst Rudolf von Gersdorff dan Hauptmann kavaleri Georg von Boeselager. 

Rencana pertama : Hauptmann Von Boeselager dan kompinya akan bertindak sebagai penjaga bersenjata iring-iringan rombongan Hitler. Dalam perjalanan dari lapangan terbang, rencananya akan dilakukan serangan terhadap mobil yang membawa Hitler. rencana ini dibatalkan ketika ternyata Hitler datang bersama dengan pengawalan ketat dari 50 orang SS bersenjata lengkap. 

Rencana kedua : usaha ini rencananya akan dilakukan pada saat acara makan siang di aula mess. Dengan mengikuti sinyal tertentu, Tresckow akan bangkit dari mejanya dan menembak Hitler pada saat Führer-nya sedang menikmati sayurannya. Tapi pemandangan aula yang dipenuhi oleh penjaga SS yang berada di dekat Hitler menimbulkan keraguan di hati Tresckow akan gagalnya rencana tersebut, sehingga sekali lagi rencana ini urung dilaksanakan. 

Rencana ketiga : Ketika Hitler menaiki pesawat yang akan membawanya kembali ke Berlin, Tresckow menginstruksikan kepada Schlabrendorff untuk menyerahkan bingkisan kepada Oberst Heinz Brandt yang akan ikut bersama Hitler dalam pesawat. Bingkisan tersebut, yang berisi dua botol Brandy, disebutkan sebagai hadiah untuk Generalmajor Helmuth Stieff di Berlin. Tersembunyi pula di dalamnya sebuah bom waktu yang dipicu oleh cairan asam (sama seperti model Rudolf von Gertsdorff). Bom itu ternyata kemudian gagal meledak gara-gara dinginnya udara di ketinggian membuat cairan asam yang dipasang di detonator menjadi beku. Ketika berita tentang Hitler telah mendarat dengan selamat di Berlin sampai ke telinga para konspirator, mereka buru-buru mengutus Schlabrendorff kesana dengan menggunakan pesawat kurir biasa untuk menukar bingkisan yang dibawa oleh Brandt dengan dua botol asli Brandy. 




Senin, 06 Maret 2017

  Arys (Orzysz) di Prusia Timur, 20 April 1944: Adolf Hitler dan para petinggi Nazi Jerman lainnya menyaksikan parade 20 buah Jagdpanzer 38 (Sd.Kfz.138/2) "Hetzer" ("Umpan" atau "Biangkerok") produksi pertama dalam jalur autobahn sebagai bagian dari perayaan ulangtahun suram sang Führer yang ke-55. Setelah acara demonstrasi usai mereka langsung dikirim kembali ke pabriknya karena proses produksinya yang masih belum sempurna! Foto atas, dari kiri ke kanan: Generaloberst Kurt Zeitzler (Chef des Generalstabes des Heeres), Reichsleiter Martin Bormann (Stabsleiter im Amt des Stellvertreters des Führers), Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht), Reichsmarschall Hermann Göring (Oberbefehlshaber der Luftwaffe), Hauptdienstleiter Dipl.-Ing. Karl-Otto Saur (Staatssekretär im Reichsministerium für Rüstung und Kriegsproduktion), perwira panzer tak dikenal, dan Adolf Hitler (Führer und oberster Befehlshaber der Wehrmacht). Orang yang mengenakan seragam Oberleutnant Luftwaffe sambil memegang kamera film adalah Walter Frentz (21 Agustus 1907 - 6 Juli 2004) yang merupakan salah satu fotografer pribadi Adolf Hitler. Dari tahun 1939 s/d 1945 dia mengabadikan segala aktivitas pemimpin Jerman tersebut (juga orang-orang terdekatnya) melalui kamera foto dan film 
  Adolf Hitler (ketiga dari kanan, Führer und oberster Befehlshaber der Wehrmacht) menginspeksi salah satu dari 20 buah Jagdpanzer 38 (Sd.Kfz.138/2) "Hetzer" ("Umpan" atau "Biangkerok") produksi pertama saat berlangsungnya presentasi resmi menyambut hari ulangtahun Hitler yang ke-55 yang diadakan di Arys (Orzysz), Prusia Timur, 20 April 1944. Setelah acara demonstrasi usai mereka langsung dikirim kembali ke pabriknya karena proses produksinya yang masih belum sempurna! Nama "Hetzer" sendiri pada awalnya bukanlah nama umum dari kendaraan pemburu tank satu ini, dan kenyataannya disematkan ke prototipe serupa yang bernama E-10. Pabrikan pembuatnya, Škoda dari Cekoslowakia, selama beberapa waktu membuat kebingungan dalam dokumen-dokumen yang dibuatnya mengenai penggunaan dua nama tersebut, dan ini berlanjut sampai setelah pengiriman Jagdpanzer 38 ke unit pertamanya. Akibatnya, selama beberapa minggu pertama nama "Hetzer" digunakan secara luas sampai akhirnya terklarifikasi melalui pemberitahuan dari pusat. Klarifikasi ini bisa dibilang terlambat karena, seperti yang diberitakan oleh Heinz Guderian dalam kertas laporannya kepada Adolf Hitler, nama "Hetzer" sudah kadung digunakan sebagai panggilan kendaraan baru tersebut oleh para pasukan di garis depan. Sejarawan pasca-perang pun kemudian ikut-ikutan meniru penggunaan nama "Hetzer" dalam karya-karya mereka meskipun, dalam kenyataannya, dia tidak pernah digunakan dalam dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh OKW (Oberkommando der Wehrmacht)! 
Sumber:  http://alifrafikkhan.blogspot.co.id/search/label/Panzer%20Nazi

 Berada di timur-laut Ukraina, Kharkov terletak sekitar 800km selatan Moskow dan 418km timur Kiev. Saat ini Kharkov telah menjelma menjadi kota metropolis dengan penduduk lebih dari dua juta jiwa, meskipun dia telah menjadi kota besar dengan penduduk 300.000 jiwa pada saat berlangsungnya Revolusi Komunis tahun 1917 dan 830.000 jiwa pada tahun 1939. Dari tahun 1919 s/d 1934 Kharkov menjadi ibukota dari Republik Soviet Ukraina. Salah satu fitur utama dari Kharkov modern yang dibangun tahun 1930-an adalah kompleks Gosprom (Dewan Industri Negara) yang terletak di lapangan Dzerzhinsky - yang disebut-sebut sebagai lapangan terluas se Eropa! Pada masa Perang Dunia II kota Kharkov berganti tangan empat kali dari bulan Oktober 1941 s/d Agustus 1943, dan setiap pertempuran selalu berpusat pada lapangan tersebut. Foto yang memperlihatkan wilayah sekitar Gosprom ini diambil pada tanggal 16 Februari 1943 - hari dimana Tentara Merah merebut Kharkov dari tangan Jerman untuk pertama kalinya

Kota Kharkov pertama kali jatuh ke tangan Jerman tanggal 24 Oktober 1941 ketika 57. Infanterie-Division merebut kota tersebut setelah pertempuran jalanan yang sengit. Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Reindl ini memperlihatkan para prajurit dari divisi tersebut sedang berjalan melintasi salah satu barikade Soviet yang melintang di jalan Sverdlov, jalan utama menuju Kharkov dari arah barat
Kota Kharkov pertama kali jatuh ke tangan Jerman tanggal 24 Oktober 1941 ketika 57. Infanterie-Division merebut kota tersebut setelah pertempuran jalanan yang sengit. Foto yang diambil oleh Kriegsberichter Schmidt ini memperlihatkan para prajurit dari divisi tersebut sedang berjalan melintasi salah satu barikade Soviet yang melintang di jalan Sverdlov, jalan utama menuju Kharkov dari arah barat. Di latar belakang kita bisa melihat jembatan yang melintasi rel kereta api menuju Kharkov
Prajurit Jerman dari 57. Infanterie-Division bergerak ke arah kota Kharkov melewati sebuah viaduk (jembatan di atas jalan) yang sudah rusak. Viaduk ini nantinya diledakkan di akhir perang untuk diganti dengan jembatan baru yang mempunyai desain berbeda. Foto di atas diambil oleh Kriegsberichter Heinz Mittelstaedt bulan Oktober 1941 saat berlangsung Pertempuran Kharkov Pertama

Sumber: http://alifrafikkhan.blogspot.co.id/2012/09/album-foto-pertempuran-kharkov.html